Diterpa fitnah setelah bersyahadah


         Cerita ini merupakan kisah nyata dari seorang mualaf yang bernama Steven Indra Wibowo, yang saat ini menjadi konsultan mualaf di Mualaf Center Indonesia. Banyak kisah para mualaf yang mengukirkan kisah pilu, namun akhirnya menjadi pemicu tumbuhnya tunas-tunas mualaf baru. Bahkan dipercaya memegang amanah sebagai ujung tombak syiar Islam. Bagaimana beliau menanggapi segala amarah, fitnah dan berbagai kejelekan dari orang lain? Dan bagaimana kiat Steven agar lisannya tetap terjaga dari berbagai macam kekejian perkataan? Marilah kita ikuti kisah saudara kita, Steven berikut ini.
     Keputusan memeluk Islam pada tahun 2000 lalu, menuai finah dari dari pihak yang tidak suka dengan keimanan saya. Ada orang yang meneror orangtua saya dengan mengirimi surat kaleng. Ada juga yang menyebar fitnah di dunia maya.
     Sampai hari ini tidak ada yang berani menunjukkan diri bahwa dia tidak suka dengan keislaman saya. Padahal jika ada yang minta klarifikasi, pasti akan saya berikan. Kalau perlu bicara langsung dengan ayah saya untuk mendapatkan informasi yang jelas. Ayah masih aktif di salah satu lembaga dalam agamanya, beliau tidak mungkin berbohong untuk mempertaruhkan lembaga keagamaan tempat beliau bernaung.
     Mereka yang menyebar fitnah, menurut saya adalah sekumpulan orang iri karena apa yang dia yakini tidak sebaik iman yang saya yakini saat ini. Ironisnya, sekuat apaun mereka memfitnah, tidak akan membuat apa yang mereka yakini itu lebih baik daripada yang saya yakini.
     Rasa marah memang sempat hadir saat itu. Alhamdulillah, dikuatkan istri muslim yang Muslim sejak awal, saya memperbanyak istighfar dan tidak membalas. Sebab, sekuat apaun upaya menjawab fitnah, kita tidak akan bisa membalik ceritanya. Saya mempraktikkan “diam itu emas”. Namun, bukan berarti diam saja, melainkan tetap berdo’a, dan mendekatkan diri kepada Allah dan memohon kesabaran, sambil tetap aktif melakukan kebaikan.
     Saya juga merasa tidak perlu meyakinkan orang lain akan keislaman saya. Lebih penting meyakini diri sendiri terhadap apa yang sudah dipilih. Manusia berasumsi dari apa yang mereka lihat dan dengar, tapi Allah tahu apa yang ada di hati manusia. alhamdulillah, terakhir saya dengar orang yang menfitnah itu sudah mengucap syahadat. Allah menurunkan hidayah kepadanya dalam waktu tiga bulan.

      Tak pernah timbul penyesalan memeluk Islam, meski cobaan menerpa. Fitnah yang datang dalam hidup kita merupakan latihan dan ujian kesabaran, juga membawa hikmah tersendiri. Saya kerap membantu calon mualaf untuk memeluk Islam. Banyak dari mereka yang ingin berdebat, tapi pada akhirnya mereka dapat menerima kebenaran dalam Islam yang saya sampaikan, bukan melihat sosok saya. Semata-mata itu semua kehendak allah SWT.

sumber: Majalah ummi

Komentar

Postingan Populer