Diterpa fitnah setelah bersyahadah
![]() |
Keputusan
memeluk Islam pada tahun 2000 lalu, menuai finah dari dari pihak yang tidak
suka dengan keimanan saya. Ada orang yang meneror orangtua saya dengan
mengirimi surat kaleng. Ada juga yang menyebar fitnah di dunia maya.
Sampai hari ini
tidak ada yang berani menunjukkan diri bahwa dia tidak suka dengan keislaman
saya. Padahal jika ada yang minta klarifikasi, pasti akan saya berikan. Kalau
perlu bicara langsung dengan ayah saya untuk mendapatkan informasi yang jelas.
Ayah masih aktif di salah satu lembaga dalam agamanya, beliau tidak mungkin
berbohong untuk mempertaruhkan lembaga keagamaan tempat beliau bernaung.
Mereka yang
menyebar fitnah, menurut saya adalah sekumpulan orang iri karena apa yang dia
yakini tidak sebaik iman yang saya yakini saat ini. Ironisnya, sekuat apaun mereka
memfitnah, tidak akan membuat apa yang mereka yakini itu lebih baik daripada
yang saya yakini.
Rasa marah
memang sempat hadir saat itu. Alhamdulillah, dikuatkan istri muslim yang Muslim
sejak awal, saya memperbanyak istighfar dan tidak membalas. Sebab, sekuat apaun
upaya menjawab fitnah, kita tidak akan bisa membalik ceritanya. Saya
mempraktikkan “diam itu emas”. Namun, bukan berarti diam saja, melainkan tetap
berdo’a, dan mendekatkan diri kepada Allah dan memohon kesabaran, sambil tetap
aktif melakukan kebaikan.
Saya juga merasa tidak perlu meyakinkan orang lain akan keislaman saya. Lebih
penting meyakini diri sendiri terhadap apa yang sudah dipilih. Manusia
berasumsi dari apa yang mereka lihat dan dengar, tapi Allah tahu apa yang ada
di hati manusia. alhamdulillah, terakhir saya dengar orang yang menfitnah itu
sudah mengucap syahadat. Allah menurunkan hidayah kepadanya dalam waktu tiga
bulan.
Tak pernah
timbul penyesalan memeluk Islam, meski cobaan menerpa. Fitnah yang datang dalam
hidup kita merupakan latihan dan ujian kesabaran, juga membawa hikmah
tersendiri. Saya kerap membantu calon mualaf untuk memeluk Islam. Banyak dari
mereka yang ingin berdebat, tapi pada akhirnya mereka dapat menerima kebenaran
dalam Islam yang saya sampaikan, bukan melihat sosok saya. Semata-mata itu
semua kehendak allah SWT.
sumber: Majalah ummi
sumber: Majalah ummi

Komentar
Posting Komentar
tulis pesan disini..